Posts

Showing posts with the label Esai

SEKILAS TENTANG DIKSI PADA PUISI

Oleh: Indra Intisa Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Dalam karya apapun, diksi merupakan hal penting yang harus diracik oleh penulisnya. Secara umum orang menilai diksi hanya milik puisi semata. Padahal bukan. Dalam menulis prosa pun kita harus mampu memilih dan meracik diksi yang tepat guna supaya karya yang dihasilkan tidak bertele-tele, selaras tetapi tetap enak dibaca. Khusus kepada puisi, diksi merupakan salah satu unsur penting yang harus dikuasai oleh para penyair. Pemilihan diksi yang tepat tentu akan berpengaruh besar pada puisi yang telah ditulis. Kenapa begitu? Kita ambil contoh saat kita membuat kursi. Bahan apa yang harus kita perlukan? Mungkin bisa saja paku, kayu, gergaji, alat pengukur, sketsa, dsb. Alat-alat atau bahan yang diperlukan juga harus tepat guna. Yang tidak tepat guna akan menjadikannya tidak bermanfaat, boros waktu, b...

NAKALNYA REMY SYLADO KETIKA MENYENTIL ORANG YANG SUKA MENYINGKAT KATA DAN MENTAL ORANG INDONESIA MELALUI PUISI MBELING-NYA

#Apresiasi_Puisi Oleh: Indra Intisa Remy Sylado adalah salah seorang seniman Indonesia yang mempunyai bakat dan keahlian yang luar biasa banyak. Ia mampu menulis karya sastra puisi, novel, esai, hingga naskah drama. Ia juga berkecimpung dalam seni musik, seni rupa, seni lukis dan terutama seni teater, tentunya aktor juga. Bakat dan keahliannya ini tentu menjadikannya sebagai salah seorang aset bangsa yang banyak dijadikan panutan. Tahun 70-an, Remy Sylado bersama kawan-kawan, melalui majalah Aktuil yang dipimpinnya  mampu menghentak dan menggemparkan dunia perpuisian Indonesia. Ia menawarkan bentuk dan gaya baru dalam berpuisi. Gaya yang terkesan nyeleneh, main-main, tidak serius dan nakal. Konsep yang dianutnya adalah sebagai bentuk perlawanan dari puisi mapan yang terkesan serius yang didewa-dewakan orang para sastrawan. Puisi seperti ini mampu menarik banyak perhatian anak muda. Dan sampai sekarang banyak seniman yang mencintai gaya puisi yang terkesan urakan ini. Bagi peny...

KIAT MENERBITKAN BUKU UNTUK PEMULA

Oleh: Indra Intisa Bagi kawan-kawan yang belum pernah menerbitkan buku dan belum tahu cara penyusunannya, maka bisa menyimak poin-poin berikut: 1). Siapkan naskah dalam microsoft word: ukuran kertas A4, ukuran huruf 12 pts, jenis huruf, times new roman. Jarak baris adalah 1.5 spasi. Biasanya ini adalah format standar penerbitan. 2). Naskah diendapkan terlebih dahulu, supaya bisa disimak baik-baik, diedit dan diperbaiki kekurangannya. Jangan terburu-buru menerbitkannya. 3) Jika naskahnya dalam bentuk puisi dan cerpen, sebaiknya ditulis dalam satu tema. Jangan biarkan tulisan terberai dengan tema berbeda. Kecuali sengaja ditulis begitu sabagai kumpulan (antologi) karya bebas. 4). Tidak ada salahnya meminta masukan ke kawan yang lebih paham sebelum karya diterbitkan. Biar ada masukan dan kritik membangun untuk karya kita. 5). Karya yang baik harus melaui riset yang baik dan lengkap. Tidak dibuat-buat sekenanya. Apalagi menyangkut sains, sejarah, dst. Perbanyak referensi dan sumber p...

SEBUAH WUJUD CATATAN WIJI THUKUL

Oleh: Eko Windarto Puisi adalah satu wujud dalam gerakan kehidupan manusia. Menulis puisi memang membutuhkan image atau khayalan dalam menciptakan puisi, meski khayalan atau metaforanya banyak orang mengatakan bahwa puisi adalah khayalan belaka. Padahal menciptakan puisi itu tidak sekedar berkhayal atau bermetafora saja, tapi butuh literasi yang cukup memadai jika ingin menjadi penulis puisi yang puisinya tak lekang oleh waktu. Memang puisi anggur dan puisi yang mampu mencatat sejarah tak bisa dibanding-bandingkan, tak mungkin, hal itu sama saja mempersoalkan anggur dan rembulan. Ia tak bisa dibanding-bandingkan tapi paling tidak bisa dibedakan, mana yang tetap mempunyai nilai-nilai abadi, universal dan mana yang mempunyai nilai-nilai sesaat dan cepat dilupakan. Coba kita renungkan nilai-nilai abadi dalam puisi Wiji Thukul. Widji Thukul: CATATAN udara AC asing di tubuhku mataku bingung melihat deretan buku-buku sastra dan buku-buku tebal intelektual terkemuka tetapi harganya O...

IMAJINASI DAN METAFORA DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto Membaca sebuah puisi seakan kita dibawa menyelami wisata lautan aksara. Banyak orang setelah membaca puisi berusaha menangkap maknanya. Bagi seorang penyair, menulis puisi karena tergoda keadaan dan alam sekelilingnya, yang jelas ia mempunyai tujuan. Sebuah puisi bisa menjadi batu loncatan mencapai tujuan hidup dari kebesaran Allah. Tak kalah penting gaung suaranya menggema mengisi hati yang sudah ditetapkanNya. Imajinasi dan metafora dalam puisi CANGKANG TELUR penuh dengan penggambaran simbolis alam, keadaan sekeliling, juga dramatisi jiwa yang begitu kental kearah religi secara dalam dan seimbang. Memang, dalam menangkap makna yang terkandung dalam sepotong puisi butuh kearifan dan pengertian menangkap mata batin sang penyair. Setiap apresiasi dan pendapat orang dengan orang lainnya pasti berbeda, bahkan bisa kontradiksi. Semua itu akibat puisi prismatis. Bisa mengapung dan melebar. Coba kita berwisata dalam puisi Edy Witanto di bawah ini. Cangkang telur Oleh: ...

MENYELAMI RINDU INDRA INTISA

Oleh: Eko Windarto Membaca puisi Rindu Indra Intisa, seperti merasa berada dalam kenangan diwaktu mengajak anakku melempar kapal dari kertas bekas yang saya buatkan, ketika itu Si Kecil melempar kapal kertas itu ke sungai, maklum rumah kami di atas tebing sungai Brantas, hingga kapal itu hanyut, dan hilang dari pandangan mata. Seperti saya yang sedang menyelami puisi Rindu. Saya terhanyut oleh rindu yang terantuk batu kali, atau hancur sebelum sampai muara? Entahlah. Mari kita nikmati puisi RINDU di bawah ini: RINDU Oleh: Indra Intisa kautulis rindu di riak-riak sungai di antara gemercik air batu-batu runcing dan pusaran mengalir terus menerus. jika hujan, riakmu membesar bibir sungai pecah-pecah kau meluap ke rumah-rumah ke jalanan ke sawah-sawah. jika kemarau, riakmu mengecil airmu jernih ikan-ikan memutih 2017 (Indra Intisa) Indra Intisa rupanya menyimpan rindu yg begitu panjang. Sampai sampai tak bisa kutebak rindunya. Kadang rindu itu membahayakan, kadang mengasy...

PENGARUH PUTIKA ATAU PUTIJU DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto Dari tema puisi Indra Intisa ini cukup menarik. Butuh perenungan tersendiri. BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA DAN OLEH SEBAB ITU KEMISKINAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN... Ini saya pikir judul nyleneh alias terpengaruh PUTIJU atau PUTIKA puisi tiga kata. Sangat menyakinkan bahwa dia sengaja membuat judul semacam itu buat melebarkan pengaruh konsep PUTIKA yang sudah dibuat lumayan lama. Dari tema atau judul saja sudah menampakkan puisi yang unik dan simbol yang bukan sembarang simbolis saja, tapi ada muatan sosial, politik, dan moral dalam undang-undang 1945, dan yang termaktub dalam Pancasila. Memang kemerdekaan adalah hak segala bangsa yang sesuai dalam butir-butir Pancasila. Jika merujuk pada undang-undang dasar 1945, serta butir-butir Pancasila, maka seharusnya kemiskinan sudah hengkang dari bumi Pertiwi ini yang gemaripah loh jinawi. Tapi sayang, negeri ini terlalu banyak tikus-tikus yang menggerogoti hingg...

Nanang Suryadi (NS): Manajer para Seniman Pinggiran

Suatu sore di tahun 2002 di Watu Gilang 17 B, seorang tamu hadir dengan kopiah seperti jamaah tabligh. Tamu itu langsung duduk di hall yang lengang itu. Berjongkok sambil memencet HPnya. Edi Syaiful Anwar, salah seorang penghuni yang mengetahui kedatangannya, langsung datang menyalami, dan mengajak saya yang kebetulan waktu itu sedang nonton televisi, untuk ikut diskusi dengan sang tamu, “Jay, ini Mas Nanang Suryadi, mantan ketua umum Komek.” Seketika itu saya baru tahu bahwa inilah sang sastrawan yang banyak dibicarakan di komek. Pada kesempatan itu beliau bercerita tentang kuliahnya di Jakarta. Sejak itu, saya akrab dan terpesona dengan tutur bahasanya yang apa adanya dan santun. Tidak menimbulkan kesan sungkan bagi seorang kader muda seperti saya waktu itu. Obrolan kami selanjutnya banyak tentang puisi-puisinya. beliau lalu memberikan saya sebuah disket (waktu itu belum ada flash disc), berisi puisinya, Telah Dialamatkan Padamu (pada waktu naik cetak, kami juga diberi be...

PUISI DARI SEORANG PERUPA

Oleh: Heru Emka Mungkan anda agak heran dengan sajian saya kali ini. Puisi Eddie Hara ? Bukankah Eddie Hara seorang perupa ? Ya, Eddie Hara memang sakah satu dari perupa ternama kita, yang kini bermukim di Bassel, Swiss. Eddie dikenal dengan lukisannya yang sarat dengan imaji yang liar, komikal, menampilkan pesan yang sinis – namun tersaji dalam visualisasi yang segar – dan tak jarang menyimpan kearifan yang terselip di balik aneka pose dan adegan dari sebuah dunia drama yang dipenuhi mahluk-makluk imajinatif yang aneh. Gaya visual seperti ini menjadi lambang dekonstruksi Eddie Hara terhadap dunia dan segenap wacananya yang kasat mata. Namun, bagi yang mengenal perjalanan seni Eddie Hara, sebenarnya tak kaget dengan puisi-puisi yang kini diciptakannya, karena dia lebih dulu menulis puisi, sebelum berkenalan dengan wacana senirupa di almamaternya, ISI, Yogya. Dan puisi bagi seorang perupa ibarat sebuah tangan, yang melengkapi tangan satunya lagi. Seperti keahlian memainkan ...

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA

Oleh:Heru Emka Apakah teman-teman mengenal nama Noorca Marendra ? Noorca Marendra ini adalah seorang penyair muda yang cukup penting dalam blantika sastra Indonesia di tahun’70-an. Bersama sqaudara kembarnya; Yudhistira Ardi Nugraha, mereka menjadi pasangan muda yang menyemarakkan blantika sastra Indonesia waktu itu bersama dengan nama-nama lainnya, seperti Adri Darmaji Woko, Handrawan Nadesul, Prijono Tjiptoherijanto dan tentu saja Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag dan Sutirman Eka Ardana dari Jogya. Yang menandai gaya khas dari puisi puisi Norrca adalah idiom bahasanya yang sederhana, santai, dan  perlahan-lahan mengajak kita menelusuri rangkaian kata-kata membentuk bangunan makna. Kesan lugu dalam berpuisi ini mungkin sengaja dipilih oleh Noorca, mengingat pada masa itu ( pertengahan tahun ’70-an ) hanya majalah sastra Horison yang dianggap sebagai satu-satunya penentu kualitas sastra kita , sehingga bermunculan anggapan, bahwa penyair belum dianggap penyair bila ...

PUISI YANG MEREKAM PERISTIWA, DENGAN BAHASA YANG SEDERHANA

Oleh: Heru Emka   “ Apakah menulis puisi harus dengan kalimat-kalimat yang serba canggih ? Saya sering merasa kagum dan sedikit iri melihat para penyair mampu menulis puisi yang panjang, dengan kalimat-kalimat yang bertaburan metafora yang luar biasa dan tak terbayangkan bisa saya tulis. Saya kadang merasa putus asa dan melupakan keinginan untuk menulis puisi, karena setiap kali saya menulis puisi, hasilnya adalah puisi sederhana dengan kata-kata yang biasa,” begitu kata seorang teman anggota Kelompok Studi Sastra Bianglala dalam sebuah percakapan on line dengan saya. Salah satu keunggulan seorang penyair adalah kemampuannya mengolah kata-kata, dengan memilih kata-kata yang disuka dan menyusunnya menjadi rangkaian kalimat, menjadi seperti gerbong kereta di mana dia mengangkut sederetan makna dalam rangkaian kata yang dikisahkan. Nah, inti utama kisah alias bertutur ini, sejak jaman kehidupan primitif hingga era digital seperti ini, masih menjadi tumpuan utama bagi nar...

Pengalaman membaca kumpulan puisi Biar, karya Nanang Suryadi

Oleh: Heru Emka “ Dying is an art, like everything else. I do it exceptionally well. I do it so it feels like hell. I do it so it feels real. I guess you could say I’ve a call.” – Sylvia Plath Kalimat yang diucapkan oleh penyair Sylvia Plath di atas tadi menunjukkan betapa derita dalam sakratul maut, ternyata tidak menggentarkan hatinya. Malah dia bersikap bahwa berteguh hati menyongsong ajal adalah sebuah seni ( dying is an art ). Betapa pun mengerikan dan menyakitkan menjelang ajal, penyair perempuan yang berbadan ringkih ini bersikap tegar menghadapinya sebagai sebuah kenyataan hidup, yang harus ditempuh dengan mata terbuka, sebagaimana hidup itu sendiri. Dalam cakrawala sastra Indonesia, saya menemukan sajak pendek karya Sutarji Calzoum Bachri yang bernafaskan serupa : hari demi hari bunuh diri pelan-pelan maut menabungku segobang demi segobang Sungguh risau rasanya menyadari bila mhidup kita meranggas layu pderlahan, seakan kita menjalani hari yang...

ENTITAS KECEMASAN DALAM PUISI DIMAS ARIKA MIHARDJA

Oleh: Agung Pranoto Dimas Arika Mihardja (dalam tulisan ini selanjutnya disebut “Dimas”) yang merupakan pseudoim dari nama Sudaryono, tercatat sebagai sastrawan Angkatan 2000 . Melalui Grup Bengkel Puisi Swadaya Mandiri , yang dikomandani Dimas [pemilik akun FB: Qi Chuex, juga biasa disapa Prof.(Pak) DAM], pada 28 April 2017 ia mengunggah tulisan bertajuk “Ziarah Diri, Puisi Bertema Kematian” yang termuat beberapa puisi bertemakan kematian. Di bawah judul itu, Dimas menuliskan pandangannya tentang kematian: “Kematian adalah misteri. Mungkin kematian terkait dengan dimensi fisik, psikis, ideologis, psikologis, dan lain-lain. Buktinya tahun 90-an entah kenapa saya banyak menulis tema ini. Mari kita bernostalgia membaca misteri kematian” . Pandangan Dimas tentang kematian sebagai misteri, lalu ia pun tahun 1993 banyak menulis puisi bertemakan kematian. Pada April 2017 Dimas kembali mengajak pembaca atau penikmat bernostalgia membaca misteri kematian me...

DI ATAS KATA BUDHI SETYAWAN

Oleh:  Dimas Arika Mihardja*) Saat penyair memilih menjadi pejalan sunyi, barangkali kelak akan menjadi sufi. atau setidaknya, mengajak menyimak dan menyibak “Sajak Sajak Sunyi” (S3, istilah Busetnya), melacak “Sukma Silam”, merasakan getar “Kepak Sayap Jiwa”, hingga memperoleh “Penyadaran”. Diksi bertanda Kutip di sini merupakan kumpulan puisi Budhi Setyawan—yang mengajak pembacanya menigi sunyi, ruhani, kejiwaan, atau mengajak bicara di kedalaman. Puisi hakikatnya ialah santapan ruhani, konsumsi spiritual, kebutuhan mewah untk santapan jiwa. Ayo kita intip satu puisinya yang mengajak introspeksi, merenung, kontemplasi. Puisi yang mengawali buku terbaca seperti ini: Di Atas Kata engkau yang kubayangkan terbang atau memang menghuni awing-awang kucari lewat zikir dan sembahyang kukejar  dengan kasidah dan dendang sedangkan diri masih di bawah duga melumur umur dengan prasangka namun waktu tabah merawat sasmita mala...

MANIFESTO: PROSES KREATIF PENCIPTAAN PUISI

Oleh: Dimas Arika Mihardja SAJAK ATAU PUISI ialah gelegak riak jiwa, kesan-kesan perseptual, rekaman rangsang puitik yang tumbuh memutik di antara kelopak bunga kata. Sajak selalu bergerak serupa riak menjadi ombak lalu bergulung serupa gelombang rasa dengan irama nada sebagai hasil olah pikir, dzikir, dan menafsirkan hidup dan kehidupan. Sajak yang kutulis kadang serupa kaca jerning begitu bening hingga kita dengan mudah bercermin melihat aneka bayang wajah sendiri, orang lain, semesta, dan bisa jadi wajah Tuhan yang secara mimesis tampil dalam aneka rupa. Sajak serupa ini kunamakan sebagai sajak "Sederhana untukmu": kutulis sebuah sajak sederhana untukmu dan untuk-Mu. Sebuah sajak mengelopak di dada, kupersembahkan untukmu dan untuk-Mu. Inilah sajakku, suara sukma yang terpadu melagukan nama-nama mesra menyentuh kalbu". Sebuah sajak, dalam konteks tertentu serupa dengan hidangan yang siap untuk disantap:"Santaplah sajakku. Anggurnya mewangi. Santaplah buah yang ...

PUISI-PUISI SAFRI NALDI: KRITIK TERHADAP MODERNITAS

Oleh: Agung Pranoto Sastrawan (penyair dan penulis prosa) dalam karya kreatifnya berupaya menyampaikan sesuatu kepada masyarakat pembaca. Sesuatu yang disampaikan sastrawan dalam karya ciptaannya merupakan pemikiran kritis terhadap fenomena kehidupan manusia yang menjadi sumber inspirasi. Melaui karya sastra yang diciptakan itu pula dapat kita pahami arah yang diinginkan sastrawan. Arah yang diinginkan sastrawan itu sangat terkait dengan fungsi sosial sastra dan keberpihakan sastrawan untuk memperjuangkan sesuatu hal. Terkait dengan hal tersebut, Luxemburg (1984: 24-25) memaparkan pemikiran kritik sastra Marxis. Lenin,  peletak dasar bagi kritik sastra Marxis, berpendapat bahwa di dalam susunan masyarakat terdapat hubungan timbal-balik (hubungan dialektik) antara bangunan bawah dan bangunan atas.  Menurut Lenin bahwa sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme. Dengan demikian, sastra terikat akan kelas-kelas...