Posts

Showing posts with the label Esai Agung Pranoto

ENTITAS KECEMASAN DALAM PUISI DIMAS ARIKA MIHARDJA

Oleh: Agung Pranoto Dimas Arika Mihardja (dalam tulisan ini selanjutnya disebut “Dimas”) yang merupakan pseudoim dari nama Sudaryono, tercatat sebagai sastrawan Angkatan 2000 . Melalui Grup Bengkel Puisi Swadaya Mandiri , yang dikomandani Dimas [pemilik akun FB: Qi Chuex, juga biasa disapa Prof.(Pak) DAM], pada 28 April 2017 ia mengunggah tulisan bertajuk “Ziarah Diri, Puisi Bertema Kematian” yang termuat beberapa puisi bertemakan kematian. Di bawah judul itu, Dimas menuliskan pandangannya tentang kematian: “Kematian adalah misteri. Mungkin kematian terkait dengan dimensi fisik, psikis, ideologis, psikologis, dan lain-lain. Buktinya tahun 90-an entah kenapa saya banyak menulis tema ini. Mari kita bernostalgia membaca misteri kematian” . Pandangan Dimas tentang kematian sebagai misteri, lalu ia pun tahun 1993 banyak menulis puisi bertemakan kematian. Pada April 2017 Dimas kembali mengajak pembaca atau penikmat bernostalgia membaca misteri kematian me...

PUISI-PUISI SAFRI NALDI: KRITIK TERHADAP MODERNITAS

Oleh: Agung Pranoto Sastrawan (penyair dan penulis prosa) dalam karya kreatifnya berupaya menyampaikan sesuatu kepada masyarakat pembaca. Sesuatu yang disampaikan sastrawan dalam karya ciptaannya merupakan pemikiran kritis terhadap fenomena kehidupan manusia yang menjadi sumber inspirasi. Melaui karya sastra yang diciptakan itu pula dapat kita pahami arah yang diinginkan sastrawan. Arah yang diinginkan sastrawan itu sangat terkait dengan fungsi sosial sastra dan keberpihakan sastrawan untuk memperjuangkan sesuatu hal. Terkait dengan hal tersebut, Luxemburg (1984: 24-25) memaparkan pemikiran kritik sastra Marxis. Lenin,  peletak dasar bagi kritik sastra Marxis, berpendapat bahwa di dalam susunan masyarakat terdapat hubungan timbal-balik (hubungan dialektik) antara bangunan bawah dan bangunan atas.  Menurut Lenin bahwa sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme. Dengan demikian, sastra terikat akan kelas-kelas...

ALIENASI CINTA DALAM PUISI-PUISI FARIDAH IDAH (MALAYSIA)

Oleh: Agung Pranoto Faridah Idah merupakan nama pena Dr. Faridah Binti Jaafar aka Dr. Fj. Ia adalah pengajar pada Bahagian Sains Politik, Pusat Pengajian Pendidikan Jarak Jauh, Universiti Sains Malaysia. Sebagai seorang yang menekuni bidang sains politik, ia menggemari menulis puisi. Puisi-puisi yang ia ciptakan bertebaran di berbagai grup sastra maya. Sebagai penulis puisi, ia tergolong produktif dalam berkarya. Apa dan bagaimana puisi-puisi yang dikreasi oleh Faridah Idah? Tulisan ini pun bertujuan untuk mengupas atau menelaah/mengkaji beberapa puisi Faridah Idah, tentu saja sampel yang menjadi objek kajian diambilkan secara random beberapa judul puisi yang ia unggah melalui grup sastra. Mencermati puisi-puisi yang ditulis Faridah Idah, dari sisi tema, banyak yang menyuarakan dunia batin seorang perempuan dalam hubungannya dengan manusia lainnya yang muaranya pada bahasa hati, yakni cinta. Soal hati dalam urusan cinta menjadi sentral inspirasi, ilham, imajinasi yang dicurahkan mela...

DI BALIK YANG TERSURAT-TERSIRAT PUISI-PUISI ADYRA AZ-ZAHRA (MALAYSIA)

Oleh: Agung Pranoto Membaca puisi-puisi Adyra Az-Zahra (selanjutnya saya sebut Dyra), seperti kita temukan mutiara indah. Mutiara  indah yang dimaksudkan di sini adalah  adanya gurat-gurat kepenyairan Dyra yang menunjukkan progres yang kian bersinar dan penggunaan diksi kemelayuan yang semakin kental. Diksi kemelayuan tersebut misalnya digunakannya diksi “dek minda”, “azali”, “jinjang”, “gigian”, “berselerak”, “(me)redah”, “berbalah”, “menggobek”, “terselit”, “leka”, “Membelek”, “terperuk”, “terkedu”, “bergelodak”,  dan “merafak”. Diksi semacam itu, bagi saya sebagai orang Indonesia, terasa asing. Namun keasingan itu tidak menjadi suatu kendala, setidaknya makna denotatifnya bisa dilacak melalui Kamus Dewan edisi keempat (Dewan Bahasa dan Pustaka, 2015) kiriman atau hadiah  ikhlas dari Dat...

KONSTRUKSI SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM KEINDAHAN DAN KESEDIHAN KARYA YASUNARI KAWABATA

Oleh: Agung Pranoto Pendahuluan Teks sastra banyak yang merekonstruksi tubuh dan seksualitas perempuan. Rekonstruksi tubuh dan seksualitas perempuan akhir-akhir ini tidak hanya dilakukan oleh penulis laki-laki. Penulis perempuan akhir-akhir ini tidak lagi merasa ‘jijik’ ketika harus mengonstruksi persoalan tubuh, hasrat seksual, maupun relasi seksual perempuan (pinjam istilah Pakasi, 2007) ke dalam karyanya. Di dalam sastra Indonesia misalnya, kita bisa melihat bahwa kehadiran Ayu Utami melalui novel Saman (DKJ, 1998) adalah awal mula tonggak dominasi genre sastra baru di dunia ketiga, yaitu ”sastra wangi” tahun 2000-an. Namun kedatangan sastra wangi banyak yang memperdebatkan. Karena sastra wangi itu sendiri adalah hal baru, dimulai oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan berderet nama yang berkedok feminisme—menyatakan hak asasi berbicara masalah diri sendiri, termasuk di dalamnya Fira Basuki, Nukila Amal, Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, Dinar Rahayu, Naning Pranoto, dan sebaga...