Posts

Showing posts with the label Esai Cunong Nunuk Suraja

KEPADA IWAN SOEKRI DAN NANANG SURYADI

C Oleh: Cunong Nunuk Suraja Kemerdekaan dan kemerekaan semuanya hak makhluk sosial yang berakal. Adakah sebuah pertanyaan berarti menisbikan pikiran waras dan logika normal? Kemana yang namanya percakapan, dialog, musyawarah melenggang kalau pertanyaan sudah dianggap teror metal? Karya sastra untuk dinikmati pembaca/penyuka/pemerhati dan ada anggapan penulis/pengarang mati setelah menyiarkan walau boleh juga dikatakan esai atas esai atas esai atau kritik atas kritik atas kritik kecuali penguasa yang otoriter yanng tak mati-mati. Karya perlu dikritisi kalau sudah mulai dipublikasi. Perbedaan visi-misi hal yang biasa dan wajar juga sah-sah saja kalau percaya pada demokrasi. Terserah mau menerima menolak menjawab mengentuti bahkan memberaki selama masih dalam koridor sosial yang disetujui. Salam kreatif! 2013

LIMA SAJAK NANANG SURYADI YANG JALAN DI TEMPAT

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Di laman Nanang Suryadi: http://www.litera.co.id/2017/02/13/puisi-puisi-nanang-suryadi/ menyodorkan lima sajak teranyarnya walau secara nyawa-ruh -jiwanya tetap seperti sajak terdahulunya yang penuh hulu ledak ungkapan terkendali. Ada baiknya saya sandingkan dengan sajak teman seperinternetan saat rezim Yayasan Multi Media Sastra (YMS) masih suka bergoyang ala K-Pop ataupun Dangdut Pantura yakni Rukmi Wisnu Wardani Rukmi Wisnu Wardani BERHATI-HATILAH HAI KAU PARA BETINA! (1) berhati-hatilah hai kau para betina ketika mereka menertawai payudaramu yang rendah apalagi ketika dikatakannya milikmu sama rata dengan papan cucian di rumah orang tuanya lalu dipuji-pujinya dada babu kakak iparnya siapa tahu milik mereka sama mungilnya dengan burung anak tetangga -RWW- BERHATI-HATILAH HAI KAU PARA BETINA! (2) berhati-hatilah hai kau para betina ketika bokongmu tak lagi mampu bangkitkan birahi mereka lalu dikatakannya goyangan pinggulmu sama dengan lambaian...

MEMUNGUT IMAJI SAJAK-SAJAK NANANG SURYADI YANG TERCECER

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Sudah lama tidak melakukan mengorek kotak limbah di sudut layar laptop maupun computer meja. Kebringasan memburu kecepatan saji Facebook menjadikan abai pada ceceran karya yang biasanya di zaman kertas sudah jadi abu atau bungkus gorengan. Sampah lebih dari dua tahun tersodorkan dan menarik untuk dikunyah dikuliti seperti juga membaca puisi yang makin genit dengan polesan gambar tatoo foto dalam pantun kilat model Jepang haiku. Puisi yang kata Sapardi Djoko Damono dalam buku ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’ puisi itu berita yang tertata dengan suatu cara dan memaknai dengan bunyi sebagaimana mantra yang diucapkan para pawang atau dukun yang terkadang makna ditinggalkan yang penting berirama maka tak heran jika penyair Nanang Suryadi juga menuliskan yang dimaksud dengan puisi seperti pawang mengusir hujan. Misalnya seperti puisi berikut: PENYAIR DAN PUISI “kita pura-pura menjadi penyair, karena tak tersisa kamar di rumah sakit jiwa” ...

MAKAN MAKNA KOSA KATA DI LUAR KREDO

Oleh: Cunong Nunuk Suraja JUDUL sajak sederhana tetapi beban pesannya mengusik entry kamus yang tak tertara. Semacam gempuran jurus Sasra Birawa Mahesa Jenar ke kening gema otak pun terbanting seperti Darmanto Jatman teriak dalam sajak Karto Iya Bilang MBoten. Begitulak kata dalam kredo. Kredo yang fenomenal dari Sutardji C B masih mengiang membentur dinding pertemanan FB yang terperanggah termekmek menabrak tatap sajak Arief Joko Wic yang sepertinya mengguratkan jejak keterbacaan literasi yang makin melabirin. Awalan [ter] termaknai paling atau pun tak sengaja sungguh menusuk ilalang cakrawala diksi. Simak potongan pupuh ini: Kembali dari terjerahak/kembali dari terbangkang. Dua corpus awalan [ter] telah mengunci kredo Tarji kehilangan taji. Labirin sajak ini  makin menggelap manakala huruf besar [m] merujuk pada sang Khalik, kening pening ini makin jadi kambing guling berdamping dengan sebotol bir bermerek Mexican. Maka jelaslah penyair menggiring pada kubang dalam rumah masa ...

GELOMBANG CYBERSASTRA RUJAK KATA PUISI GRAFITI CHAIRIL ANWAR

O leh: Cunong Nunuk Suraja Bulan April memang identik dengan bulan sastra dengan titik tolak pemikiran Chairil Anwar yang ditengarai sajak-sajaknya oleh Sutan Takdir Alisjahbana(STA) sebagai rujak: “Makanan ini asam, pedas, asin, dan banyak terasinya, berguna untuk mengeluarkan keringat, tapi tak dapat dijadikan sari kehidupan manusia.” (Dalam Goenawan Mohamad. 2011.“Takdir: Puisi dan Antipuisi” Puisi dan Antipuisi. Jakarta: Tempo dan PT Grafiti Pers. pada halaman 74 dan 171). Sajak-sajak semangat Chairil Anwar walaupun juga diketahui sebagai karya saduran memang menyodorkan pemilihan kata baru yang meruyak dan memporak-porandakan kosa kata Bahasa Indonesia yang saat itu masih dianggapbaru mulai merdeka. Sajak Aku, Diponegoro, Krawang- Bekasi untuk menyebutkan beberapa sajak yang mewakili zaman perjuangan kemerdekaan dengan semboyan 45. Keberpihakan penyair pada perjuangan kemerdekaan dengan sajak Persetujuan dengan Bung Karno juga makin menokohkan sajak rujak i...

TERJERAT BAIT AKHIR SENJA TERDUDU

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Senja dengan awalan kata penggabung makna pun gagasan terasa mencekat nafas pemaknaan yang termakna keterpenjaraan di akhir bait: dan senja jatuh di sepanjang pematang tak cukup menyebut namaMU ketika aku hendak pulang. Nafas  apresiasi tertawan dalam jeruji yang ketertiba-tibaan mewajah paduka yang tertuju pada akhir segala akhir walau kisah cerita mengalir seperti bengawan Ciliwung yang sering mengoyak penduduk ibukota. Ilustrasi foto sangat menyaran membakar imaji rapi pesan di bait awal yang juga terhubung dengan kata 'dan' yang merangkul: dan senja jatuh di sepanjang pematang burung burung telah usai menganyam sarang gerit tirai malam di selembar partitur komposisi berjuta gelisah atau tembang tembang alit belum sempat terselesaikan Pertanyaan yang mengurung jeruji labirin penjara bayang-bayang cakrawala menyeruak pedas tentang siapa yang mampu menangkap isyarat. Pertanda ujung kusah yang sudah dicatat di buku langit. Terselip ganjalan ...

KETIKA KATA TAK MENJADI PUISI

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Tak disangkal kalau puisi adalah susunan kata-kata. Lalu apa yang terjadi kalau susunan kata-kata itu tidak menjadikannya puisi. Kata-kata itu cuma bergerombol, bergesekan satu sama lain, menyusun tumpukan demi tumpukan seperti sampah atau hanya berserakan di semua wilayah. Kata-kata itu berbusa-busa di mulut pembicara baik sedang pidato ataupun ceramah agama lebih-lebih guru atau dosen yang mengajar terlalu banyak kata tanpa bukti tindakan yang nyata. Seakan benar kata Seno Gumira Ajidarma jika jurnalis dibungkam maka sastra bicara. Sastra juga melibat puisi. Sastra juga mengungkapkan kata-kata baik yang berbusa maupun yang berantakan logika katanya. Maka sastrapun jadi tumpukan kata-kata yang tak ada guna. Kata serapah, Kata makian, Kata umpatan, Kata hardikan. Kata celaan. Kata kiasan. Kata mutiara. Kata peribahasa yang usang. Kata yang terselip di gigi seusai makan daging dan ikan. Kata hanya merupakan tumpukan sayur selada, bayam dan kangkung yang siap d...

LARIK-LARIK KATA (2016) BUKU SAJAK DHARMADI TERBACA SENAFAS LANSIA

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Dalam buku Seno Gumira Ajidarma (2015) Obrolan Urban Tiada Ojek di Paris diprakatai [Kehidupan] urban, yang pertumbuhannya memang dibentuk pergulatan berbagai kepentingan, dengan segala keambaradulan yang diakibatkannya, adalah lahan subur untuk memeriksa usaha memapankan peradaban, dan membongkar mitosnya, agar kebudayaan bisa dilanjutkan. (hal 14) Maka tak heran jika penyair mulai mengunggah  keluhannya di muka buku dalam puitisasi yang riuh seriuh burung-burung migran yang mennghidari pergantian musim yang makin njekut. Demikian Dharmadi menorrehkan bait yang kikir nafas panjang tak lebih dalam satu elahann nafas manula yang menanjaki tangga mall tannpa bantuan mesin elektrik traveler maupun kotak pengangkat lift yang sangat boros energy. Kumpulan puisi bertarih 2016 ini dibuka dengan tiga larik sajak saja: 68 sampai angka berapakah umur hidup terus berjalan meninggalkan pangkai menuju ujung dan apa tentang hidup itu sendiri 2016 Judul angka...

KRITIK SASTRA CYBER TANPA KASTA TAK BERKASTIL

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Pendahuluan Bahasa tercipta untuk saling menukar gagasan dan menjelaskan makna angan-angan di kepala yang kadang tergelincir jadi salah tanggap. Sastra merupakan hasil limbah otak yang disalurkan dalam wacana yang semula hanya bunyi bagi manusia purba yang tidak memunculkan penilaian yang termaknai sebagai kritik. Di masyarakat yang mengandalkan wacana bunyi - layaknya ujaran language is a sound or a sign - kritik terejawantah dengan melakukan perubahan atau pengembangan dengan melengkapi wacana nenek moyang bukan melakukan penilaian uji ulang atau pembongkaran sepenuhnya. Jadilah budaya lisan yang santun memoles menambal dan mengelus bukan merombak membrontak tatanan yang sudah tergelar beratus-ratus tahun pewarisan kekayaan kearifan budaya moyang dengan tanpa pergeseran kuasa berdarah - hanya epos kepahlawanan yang penuh wibawa dan bijak. Perkembangan jumlah anggota masyarakat yang sehat kuat menjadikan keperluan pemenuhan kebutuhan meningkat dan perubaha...

NYANYIAN CINTA LIMABELAS SANG RANGRANG

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Tidak banyak yang dapat diungkap catatan kehidupan penyair Sang Rangrang hingga yang paling pol dengan jenis kelamin dan etnis maupun tingkat kelompok usianya. Sungguh sangat kusam menelusuri sajak yang merupakan cerminan pribadi penyajaknya maka cukup lama setelah mengunduh satu per satu sajak yang dikirim lewat kotak pesan karena yang dikirimkan bukan file sajak atau karya tapi gepokan tunggul asli dari Facebook yang memerlukan kesabaran mata tua tingkat kerabunan enam puluh lima tahun. Memang sebagian bicara cinta karena pada dasarnya orang bercinta adalah buah ranum persajakan yang biasa kala merayu rembulan milik nini anteh di langit purnama penuh. Ada juga penjelasan bahwa namanya dari unsur kata Sunda dan sajak Sangkuriang selagi legenda atau mitos Sunda dikuasai dengan purna. SANGKURIANG BANGKIT (1) #ulah korupsi andai benar moyangku si Tumang dan babi hutan, andai benar sodaraku lutung kasarung Aku cukup bahagia setidaknya aku tidak usah tinggal...

51 PENYAIR PILIHAN DALAM BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Image
Oleh: Cunong Nunuk Suraja Dengan dibalut bendera Merah Putih tiga sosok wajah dengan jenis rambut berbeda dan wajah penuh ria menjadi sampul buku yang menghimpun kurang lebih 200an puisi yang disunting oleh Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie menjadikan buku punya nilai nasionalisme yang mumpuni.  Judul yang hampir mengacu pada kepesimisan buku kumpulan Taufik Ismail  Malu aku jadi Orang Indonesia  ataupun esai Mochar Lubis   Manusia Indonesia  judulnya merupakan judul sajak editor yang terkutip dengan sempurna di bawah ini Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia Bangga aku jadi rakyat Indomnesia Guru lapar masih tertawa Anak makan tiwul lolos masuk universiti Petani terus mencangkul meski pak camat ingkar janji Tak menggerutu setengah hari antre cuma buat obat diare Tak gusar berdesakan bayar listrik atau beli karcis kereta api Sabar bikin KTP harus menunggu lurah pulang menjahit safari Terima na...