Posts

Showing posts with the label Esai Eko Windarto

SEBUAH WUJUD CATATAN WIJI THUKUL

Oleh: Eko Windarto Puisi adalah satu wujud dalam gerakan kehidupan manusia. Menulis puisi memang membutuhkan image atau khayalan dalam menciptakan puisi, meski khayalan atau metaforanya banyak orang mengatakan bahwa puisi adalah khayalan belaka. Padahal menciptakan puisi itu tidak sekedar berkhayal atau bermetafora saja, tapi butuh literasi yang cukup memadai jika ingin menjadi penulis puisi yang puisinya tak lekang oleh waktu. Memang puisi anggur dan puisi yang mampu mencatat sejarah tak bisa dibanding-bandingkan, tak mungkin, hal itu sama saja mempersoalkan anggur dan rembulan. Ia tak bisa dibanding-bandingkan tapi paling tidak bisa dibedakan, mana yang tetap mempunyai nilai-nilai abadi, universal dan mana yang mempunyai nilai-nilai sesaat dan cepat dilupakan. Coba kita renungkan nilai-nilai abadi dalam puisi Wiji Thukul. Widji Thukul: CATATAN udara AC asing di tubuhku mataku bingung melihat deretan buku-buku sastra dan buku-buku tebal intelektual terkemuka tetapi harganya O...

IMAJINASI DAN METAFORA DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto Membaca sebuah puisi seakan kita dibawa menyelami wisata lautan aksara. Banyak orang setelah membaca puisi berusaha menangkap maknanya. Bagi seorang penyair, menulis puisi karena tergoda keadaan dan alam sekelilingnya, yang jelas ia mempunyai tujuan. Sebuah puisi bisa menjadi batu loncatan mencapai tujuan hidup dari kebesaran Allah. Tak kalah penting gaung suaranya menggema mengisi hati yang sudah ditetapkanNya. Imajinasi dan metafora dalam puisi CANGKANG TELUR penuh dengan penggambaran simbolis alam, keadaan sekeliling, juga dramatisi jiwa yang begitu kental kearah religi secara dalam dan seimbang. Memang, dalam menangkap makna yang terkandung dalam sepotong puisi butuh kearifan dan pengertian menangkap mata batin sang penyair. Setiap apresiasi dan pendapat orang dengan orang lainnya pasti berbeda, bahkan bisa kontradiksi. Semua itu akibat puisi prismatis. Bisa mengapung dan melebar. Coba kita berwisata dalam puisi Edy Witanto di bawah ini. Cangkang telur Oleh: ...

MENYELAMI RINDU INDRA INTISA

Oleh: Eko Windarto Membaca puisi Rindu Indra Intisa, seperti merasa berada dalam kenangan diwaktu mengajak anakku melempar kapal dari kertas bekas yang saya buatkan, ketika itu Si Kecil melempar kapal kertas itu ke sungai, maklum rumah kami di atas tebing sungai Brantas, hingga kapal itu hanyut, dan hilang dari pandangan mata. Seperti saya yang sedang menyelami puisi Rindu. Saya terhanyut oleh rindu yang terantuk batu kali, atau hancur sebelum sampai muara? Entahlah. Mari kita nikmati puisi RINDU di bawah ini: RINDU Oleh: Indra Intisa kautulis rindu di riak-riak sungai di antara gemercik air batu-batu runcing dan pusaran mengalir terus menerus. jika hujan, riakmu membesar bibir sungai pecah-pecah kau meluap ke rumah-rumah ke jalanan ke sawah-sawah. jika kemarau, riakmu mengecil airmu jernih ikan-ikan memutih 2017 (Indra Intisa) Indra Intisa rupanya menyimpan rindu yg begitu panjang. Sampai sampai tak bisa kutebak rindunya. Kadang rindu itu membahayakan, kadang mengasy...

PENGARUH PUTIKA ATAU PUTIJU DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto Dari tema puisi Indra Intisa ini cukup menarik. Butuh perenungan tersendiri. BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA DAN OLEH SEBAB ITU KEMISKINAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN... Ini saya pikir judul nyleneh alias terpengaruh PUTIJU atau PUTIKA puisi tiga kata. Sangat menyakinkan bahwa dia sengaja membuat judul semacam itu buat melebarkan pengaruh konsep PUTIKA yang sudah dibuat lumayan lama. Dari tema atau judul saja sudah menampakkan puisi yang unik dan simbol yang bukan sembarang simbolis saja, tapi ada muatan sosial, politik, dan moral dalam undang-undang 1945, dan yang termaktub dalam Pancasila. Memang kemerdekaan adalah hak segala bangsa yang sesuai dalam butir-butir Pancasila. Jika merujuk pada undang-undang dasar 1945, serta butir-butir Pancasila, maka seharusnya kemiskinan sudah hengkang dari bumi Pertiwi ini yang gemaripah loh jinawi. Tapi sayang, negeri ini terlalu banyak tikus-tikus yang menggerogoti hingg...