Posts

Showing posts with the label Esai Heru Emka

PUISI DARI SEORANG PERUPA

Oleh: Heru Emka Mungkan anda agak heran dengan sajian saya kali ini. Puisi Eddie Hara ? Bukankah Eddie Hara seorang perupa ? Ya, Eddie Hara memang sakah satu dari perupa ternama kita, yang kini bermukim di Bassel, Swiss. Eddie dikenal dengan lukisannya yang sarat dengan imaji yang liar, komikal, menampilkan pesan yang sinis – namun tersaji dalam visualisasi yang segar – dan tak jarang menyimpan kearifan yang terselip di balik aneka pose dan adegan dari sebuah dunia drama yang dipenuhi mahluk-makluk imajinatif yang aneh. Gaya visual seperti ini menjadi lambang dekonstruksi Eddie Hara terhadap dunia dan segenap wacananya yang kasat mata. Namun, bagi yang mengenal perjalanan seni Eddie Hara, sebenarnya tak kaget dengan puisi-puisi yang kini diciptakannya, karena dia lebih dulu menulis puisi, sebelum berkenalan dengan wacana senirupa di almamaternya, ISI, Yogya. Dan puisi bagi seorang perupa ibarat sebuah tangan, yang melengkapi tangan satunya lagi. Seperti keahlian memainkan ...

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA

Oleh:Heru Emka Apakah teman-teman mengenal nama Noorca Marendra ? Noorca Marendra ini adalah seorang penyair muda yang cukup penting dalam blantika sastra Indonesia di tahun’70-an. Bersama sqaudara kembarnya; Yudhistira Ardi Nugraha, mereka menjadi pasangan muda yang menyemarakkan blantika sastra Indonesia waktu itu bersama dengan nama-nama lainnya, seperti Adri Darmaji Woko, Handrawan Nadesul, Prijono Tjiptoherijanto dan tentu saja Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag dan Sutirman Eka Ardana dari Jogya. Yang menandai gaya khas dari puisi puisi Norrca adalah idiom bahasanya yang sederhana, santai, dan  perlahan-lahan mengajak kita menelusuri rangkaian kata-kata membentuk bangunan makna. Kesan lugu dalam berpuisi ini mungkin sengaja dipilih oleh Noorca, mengingat pada masa itu ( pertengahan tahun ’70-an ) hanya majalah sastra Horison yang dianggap sebagai satu-satunya penentu kualitas sastra kita , sehingga bermunculan anggapan, bahwa penyair belum dianggap penyair bila ...

PUISI YANG MEREKAM PERISTIWA, DENGAN BAHASA YANG SEDERHANA

Oleh: Heru Emka   “ Apakah menulis puisi harus dengan kalimat-kalimat yang serba canggih ? Saya sering merasa kagum dan sedikit iri melihat para penyair mampu menulis puisi yang panjang, dengan kalimat-kalimat yang bertaburan metafora yang luar biasa dan tak terbayangkan bisa saya tulis. Saya kadang merasa putus asa dan melupakan keinginan untuk menulis puisi, karena setiap kali saya menulis puisi, hasilnya adalah puisi sederhana dengan kata-kata yang biasa,” begitu kata seorang teman anggota Kelompok Studi Sastra Bianglala dalam sebuah percakapan on line dengan saya. Salah satu keunggulan seorang penyair adalah kemampuannya mengolah kata-kata, dengan memilih kata-kata yang disuka dan menyusunnya menjadi rangkaian kalimat, menjadi seperti gerbong kereta di mana dia mengangkut sederetan makna dalam rangkaian kata yang dikisahkan. Nah, inti utama kisah alias bertutur ini, sejak jaman kehidupan primitif hingga era digital seperti ini, masih menjadi tumpuan utama bagi nar...

Pengalaman membaca kumpulan puisi Biar, karya Nanang Suryadi

Oleh: Heru Emka “ Dying is an art, like everything else. I do it exceptionally well. I do it so it feels like hell. I do it so it feels real. I guess you could say I’ve a call.” – Sylvia Plath Kalimat yang diucapkan oleh penyair Sylvia Plath di atas tadi menunjukkan betapa derita dalam sakratul maut, ternyata tidak menggentarkan hatinya. Malah dia bersikap bahwa berteguh hati menyongsong ajal adalah sebuah seni ( dying is an art ). Betapa pun mengerikan dan menyakitkan menjelang ajal, penyair perempuan yang berbadan ringkih ini bersikap tegar menghadapinya sebagai sebuah kenyataan hidup, yang harus ditempuh dengan mata terbuka, sebagaimana hidup itu sendiri. Dalam cakrawala sastra Indonesia, saya menemukan sajak pendek karya Sutarji Calzoum Bachri yang bernafaskan serupa : hari demi hari bunuh diri pelan-pelan maut menabungku segobang demi segobang Sungguh risau rasanya menyadari bila mhidup kita meranggas layu pderlahan, seakan kita menjalani hari yang...