KONSTRUKSI SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM KEINDAHAN DAN KESEDIHAN KARYA YASUNARI KAWABATA
Oleh: Agung Pranoto Pendahuluan Teks sastra banyak yang merekonstruksi tubuh dan seksualitas perempuan. Rekonstruksi tubuh dan seksualitas perempuan akhir-akhir ini tidak hanya dilakukan oleh penulis laki-laki. Penulis perempuan akhir-akhir ini tidak lagi merasa ‘jijik’ ketika harus mengonstruksi persoalan tubuh, hasrat seksual, maupun relasi seksual perempuan (pinjam istilah Pakasi, 2007) ke dalam karyanya. Di dalam sastra Indonesia misalnya, kita bisa melihat bahwa kehadiran Ayu Utami melalui novel Saman (DKJ, 1998) adalah awal mula tonggak dominasi genre sastra baru di dunia ketiga, yaitu ”sastra wangi” tahun 2000-an. Namun kedatangan sastra wangi banyak yang memperdebatkan. Karena sastra wangi itu sendiri adalah hal baru, dimulai oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan berderet nama yang berkedok feminisme—menyatakan hak asasi berbicara masalah diri sendiri, termasuk di dalamnya Fira Basuki, Nukila Amal, Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, Dinar Rahayu, Naning Pranoto, dan sebaga...