Posts

Showing posts with the label Puisi

DI DEPAN PINTU

Puisi: Eko Windarto di depan pintu waktu memukul jantungku dada terharu mengikuti langkahmu mengekalkan gelap mata sebelum perasaan selesai mengeja luka kau pasti tahu senyum lugu anak-anakku mencium harapan dan perasaan itu waktu makin sempit aku harus gesit sebelum sendi-sendi hati menggigit ingat waktu pergi sesudah itu tak kembali karena hak bukan punyaku lagi Batu, 9122017

MEME

Puisi: Nanang Suryadi kita membuat gambar gambar lucu dan tertawa menertawakan diri sendiri hingga lupa apa yang diderita apa yang dirasa karena semua telah menjadi kelaziman kewajaran yang terus diulangulang dan kita membuat gambar gambar penuh tawa hingga lupa kita punya luka dan perih tak terhingga karena kebohongan diulangulang dipercaya.menjadi kebenaran dan kita membuat gambar lucu diri kita sendiri yang tertawa lebar menertawakan kebodohan diri sendiri Bandung, 9 Desember 2017

WACANA EDENIA

Puisi Heru Emka - kepada oei sien tjwan  - aku mengangankan hidup ini serupa kisah terindah dalam kitab suci di saat pertama di mana derita belum terjelma. di masa yang seperti begitu purba di mana semesta membayang bagai fatamorgana ketika hidup terasa begitu maya di mana kalam kata belum belum lagi menuliskan purana dosa. aku mengangankan hidup ini mengembang dalam citra firdausi, serupa imaji yang timbul tenggelam dalam dunia mimpi, maka Edenia pun terjelma dari tarian ajaib jemari kata-kata, yang mencipta fakta lain dari bahasa. seperti buah misteri dia hadir tak terdeteksi dari perselingkuhan tersembunyi antara mimpi dan imajinasi, serupa taman yang sesungguhnya bukan taman seperti  buaian di seberang halimun yang menyesatkan di mana petualangan menjadi  permainan yang menyenangkan. antara ada dan tiada, Edenia tercipta dari kisah lama tentang sorga di antara jembatan mimpi dan imajinasi Edenia menuliskan kisahnya sendiri, di Edenia semesta bertransfigur...

MERINDUKAN SEPI YANI

Puisi Heru Emka malam ini, aku kembali merindukan sepi Yani di dalamnya hamparan sunyi  benar-benar sepi ketika nyanyi mulai berhenti sebagai bunyi hanya berpendaran seperti warna pelangi sunyi Yani terasa begitu melenakan perlahan-lahan menyusutkan keresahan begitu ringkas menghisap cemas gembala mimpi di tidur pulas aku merasakan sejuknya kesunyian yang mencair seperti tembaran air, melapisi ruang kita berdua membujuk-sang waktu agar berhenti mengalir merasuki malam kota, menghisap warna nada kata kita berdua merapatkan diri, melipat lembaran sunyi menjadi begitu rapi, menata dalam tumpukan mungil bantal kecil, alas sepasang tubuh cinta kita berdua, saat melucuti kata-kata dari bahasa cinta dirimu yang pernah kubayangkan sebagai kunang-kunang\ dengan cahaya yang redup, sedang bagimu akulah tambang yang terjulur hingga jauh ke dasar liang. inilah kita berdua, sepasang jiwa luka terbawa rakit cinta mencari bahagia   menjelang dini hari, 14 november 2011 ...

EKSTASE MAYA

Puisi: Nanang Suryadi bahkan kau membuka segala yang rahasia di kitab wajah. membuka nama nama dan angka angka yang kau ketahui. di dinding waktu mereka menera namamu nama kekasihmu nama kenangan kenangan dari masa lalu. kemana engkau akan pergi? jejakmu tercatat. langkah demi langkah. jarak demi jarak. siapakah engkau? engkau mencari nama dan wajahmu di mesin pencari. kau tak percaya itu dirimu. yang dicatat waktu. Bandung, 27 Maret 2017

SEONGGOK BATU

Puisi Nanang Suryadi Seonggok batu Menyaksi bisu Lintasan waktu Diamlah Biar kunikmati cahaya matahari Biar kunikmati air mengalir melintasi Biar kunikmati angin berdesir Biar kunikmati tatap mata hati Seonggok batu Diam diam mencatat waktu Malang, 2017

SONETA SUATU SENJA

Puisi: Nanang Suryadi Baris-baris puisi Di senja yang gigil Demam puisi Diksi yang nihil Ingatlah salju turun Di negeri jauh Penyair melintas tahun Jelajah tubuh Inilah tanda yang disematkan Pada mata bercahaya Sebagai mimpi remaja Sebagai senja puisi Gigil menerima cahaya Binar mata menjelma Malang, 16 April 2017

DONGENG TAHUN BARU UNTUK JOKPIN

Puisi: Nanang Suryadi pelan-pelan dia menyimpan ingatan. besok akan dibaca lagi dia anak yang baik. bahkan saat puisi berebut tempat di kepala dan hatinya, dia mau berbagi “sisakan satu lampu saja untukku. ambil lampu yang lain dari mataku” katanya lugu “terserah kamu panggil aku malin atau si anu, asal ibu tak mengutukku jadi batu,” tulisnya di buku waktu sekelebat dia ingat harus membuat kalender baru. ayahnya perlu terompet untuk tahun baru dia anak yang baik. membantu ibu mencari ayah baru “aku tidak mau menulis sajak, biar sajak menulis diriku,” katanya sambil berlagu “kamu meniru? rambutmu harus rontok dulu. biar puisi mau masuk ke dalam kepalamu,” dia menasehati kawanku. anak baik itu “kamu harus jadi dirimu, biar kukenali dirimu. copot baju dan celana itu.” temanku memang lucu. anak baik yang lugu uuuuu kenapa harus berlagu? uuuu tentu saja di saat-saat rindu pada susu buatan ibu “tunggulah di sini, huj...

DUNIA ORANG DEWASA

Puisi: Nanang Suryadi kami mencari kartu garansi di pasar gelap. sang penjual menawarkan dengan harga tinggi. kami menyimpan senja dalam kepala, dan membisikkannya saat bulan purnama kami menatap foto yang sama, tapi yang dicari diri sendiri kami bermain-main huruf, sebuah keberuntungan ketika menemukan kata kami menulis puisi, dan bertanya-tanya apa artinya kami bertukar gelas kopi. gelasku separuh kosong. gelasnya separuh terisi diam-diam kami saling membaca cuaca di mata kami, lalu berkicau tentang sepi kami menyukai omong kosong. karena kami suka mengisi teka-teki kami menduga-duga siapa menggantung, pada saat cuaca makin mendung kami belajar rendah hati hingga terlanjur rendah diri. kami tak mau tinggi hati karena tak ada tangga lagi kami, aku dan bayang-bayangku, saling mentertawakan. kami tertawa berbahagia

MENGENANGMU DI DALAM BIOSKOP

Puisi: Nanang Suryadi :wt demikian sejuk dan wangi ruang ini biar kunikmati saja detik-detik ketakutanmu ya, karena engkau manusia biasa, ketakutan bukan sebuah dosa kami sudah sangat pandai sekarang, membolak balik kata menjual sebuah derita, menjual sebuah nestapa ya, karena kami sangat bijaksana menata kata-kata demikian nyaman tempat ini, sangat enak mengenang perjuangan di waktu muda dulu, tentu saja sambil mengenangmu ya, kami bukan pelupa sejarah sendiiri, bahkan sudah kutulis di buku biografiku sendiri ah, engkau, mengenangmu dalam sunyi, demikian abadi

Soneta Malam

Puisi: Nanang Suryadi seperti ada yang berbisik padaku baris-baris puisi yang terbang, wing mungkin angin yang berdesing-desing di sela-sela sajak yang sesak berbuku-buku seperti ada yang berbisik padaku seperti lonceng waktu lemah bergemerincing mungkin soneta suaramu, wing di lembut cuaca bersalju di negeri itu aku teringat kohar ibrahim mendongeng melukis negeri yang dirindukannya di jemarinya hutan terbakar ada yang berbisik malam ini seperti mendongeng demikian lirih bercerita, mungkin dingin cuaca seperti  engkau wing, rimbaud, dan kohar berkabar Malang. 16 April 2017

PUISI BANJIR

Puisi Yesmil Anwar apa yang kita pahami tentang kegelisahan air saat ditinggal pergi pepohonan, hutan, dan gunung gemunung? Karena sepinya ia pun mencari kota Menahan jembatan dalam buaian Lalu berbondong bondong meninggikan batas yang tak terjangkau rumah dan pertokoan... Orang orang bersampan memandang dari kejauhan menanti air surut: "Katanya banjir belum surut....!?" Mereka menerka nerka. Mereka menangkap tanda jatuhnya matahari di genangan terakhir, pendarnya menyilaukan mata. Tak peduli betapa melelahkannya perjalanan sungai yang memanggul beban rindu akan rindangnya hulu tempat mata air bersumber. Orang orang pun berteriak, karena tidak sabaran: "tutup sumbernya, matikan keloknya!". Lalu beramai ramai mereka memperkosa sungai, gunung, hutan di rumah orang bunian Dari balik mimpi para pengungsi Matahari tak kunjung tiba, sementara air semakin meninggi di ujung jemari ribuan anak sungai, hutan-hutan dan gunung gemunung yang bertemu saling berpelu...

Puisi Andang Bachtiar

Andang Bachtiar Kau Iwan Aku Yayang Kau seniman Aku cenayang 🤣 Andang Bachtiar Hidup pantun ! Hidup Wahyudin ! Banyak senyum ! Hidup terjamin ! Andang Bachtiar Kupikir burung enggang Ternyata ayam hutan Kupikir keberhasilan Ternyata pencitraan Andang Bachtiar tidak ada apa-apanya gunung itu hebat karena jadi pasak yang menenangkan : bumi yang berguncang besi dalam batuan hebat karena menerobos dan memancang : gununggunung yang bergoyang api itu hebat karena bisa melelehkan besi air itu hebat karena bisa memadamkan api angin itu hebat karena menggerakkan air di lautan jadi gelombang tapi semua benda dan proses ciptaan itu tdk ada apa-apanyanya dibandingkan dengan : orang sedekah yang ketika tangan kanannya memberi tangan kirinya tidak mengetahui, : dahsyat!!!! sedekah itu lebih hebat dari bumi yang berguncang, gunung yang tenang, besi yang memancang, api yang melelehkan, air yang memadamkan, dan angin yang menggelora, : dahsyat!! khutbah jumat ...

Waktu membaca air mata

Puisi: Sutan Iwan Soekri Munaf Waktu membaca air mata Terasa menetes puisi Untuk kembali padaMu Jakarta, Juni 2017

SAJAK LAGI-LAGI

Puisi: Sutan Iwan Soekri Munaf Lagi-lagi malam membuka halaman mimpi: Kedunguan melangkah tertatih-tatih di balik musim salju di negeri telanjang tanpa aurat dan sampah berseliweran di antara bibir dan jamban. Dan tentu buku sepi setia menemani malam untuk membuka halaman demi halaman mimpi, menguatkan hati ke jalan yang lurus: Tinggalkan Bantar Gebang! Tinggalkan aroma sampah dan jamban yang bertebaran! Dinihari mengajuk hati ke tempatMu Bersih dan wangi! Di tepi Bekasi... Juni 2017

DONGENG NANANG SURYADI DI BULAN JUNI

Puisi: Sutan Iwan Soekri Munaf Boleh jadi bola yang melambung itu dan dipermainkan kaki-kaki waktu, menjadi perhatian mata-mata dengan pikiran kosong melompong. Ketika detik-detik pertama melayang, tak ada yang tahu kemana gerak menit, bahkan jam, hari, minggu dan tahun. Semua hanya lembaran kertas yang tinggal disobek. Tanpa perlu waspada pada wasit atau hakim garis. Hanya permainan waktu. Tak lebih! Kalau saja senja ini membatalkan puasa sepi dengan segelas puisi. Biarlah waktu mencengkram hingga datang kelam: Lampu stadion menyala terang! Dan gawang itu dalam dekapanNya. Bekasi, 2017

Membaca Puisi di Beranda Puisi Nanang Suryadi

Di Beranda Puisi dapat ditemukan: Kumpulan Puisi (Sajak) Religius Sajak-sajak Terbaru dan Terbaik Nanang Suryadi 2011 Contoh Puisi Puisi Yang Sepi Puisi Terbaik di Indonesia Kumpulan Puisi Sunyi Kumpulan Puisi Protes Sosial: Surat Untuk Ibu Pertiwi Contoh Sajak Rindu kepada Tuhan Sajak Di Akhir Tahun

PUISI USIA TUJUH TAHUN

Puisi: Cunong Nunuk Suraja sekolah itu membuka cakrwala menuju labirin menyusup dalam jala-jala waktu mengkerangkeng kaca mata kuda hitam putih beda warna  kelamin memancung kepala ingatan petuah ibu puisi terpotong tujuh serpihan berserak mencermin mozaik wajah 2018

MEPERKUDA PUISI

Puisi: Cunong Nunuk Suraja kepada kritikus sastra cyber memacu laju kuda beban garam Kuningan larut ke laut imajinasi kacamata penolak mantra psedo Freud memasuki hutan berjalan cagak bernama lidah Robert Frost meludahi ranting jalan basah kendali dikunyah besi zaman kolonial dipermak cepat saji congklangan jejak samar biner kau-aku kalian-liyan menanda warna-warni bianglala kata menjorok pada jerit binatang jang menerjang palang Rendra Chairil Anwar rambu pikir logis tersedak labirin makna serapah pepatah moyang cadar bertikai bayang orientasi salah kaprah mementahkan serangga dasar katak melompati kolam hutan beton grafiti kota terendam cuaca salah eja meluruhkan salju putih malam natal di persinggahan pemburu di pondok menunggu temaram mangsa mengoyak menghapus petaka bumi sendiri menanak harap langit muntahkan hujan caci maki kemacetan kota meningkap angin metapurna hikayat sejarah komunikasi tanpa bunyi makanlah makna kamus lusuh penyair renta didera encok bahasa ...

Puisi puisi Pendek Cunong

Puisi: Cunong Nunuk Suraja BUKAN MENU HARU BIRU sejumput senyum dikulum basah bunga rumput digoyang Riverview Drive 306, Cokumbus OH -2080 MENU SPECIAL tiga telur ceplok mata sapi ditaburi puisi Riverview Drive 306, Cokumbus OH -2080 MENU PAGI sepiring puisi Imron Tohari haiku kigo kireji Riverview Drive 306, Columbus OH -2080 MENU SIANG segrobak dukotu sungsang Hardiyono Sulang tanda silang Riverview Drive 306, Cokumbus OH -2080 MENU MALAM mengumpulkan sisa-sisa hutang segobang-segobang kata puisi Sutardji Riverview Drive 306, Cokumbus OH -2080