Posts

Showing posts with the label Puisi Nanang Suryadi

MEME

Puisi: Nanang Suryadi kita membuat gambar gambar lucu dan tertawa menertawakan diri sendiri hingga lupa apa yang diderita apa yang dirasa karena semua telah menjadi kelaziman kewajaran yang terus diulangulang dan kita membuat gambar gambar penuh tawa hingga lupa kita punya luka dan perih tak terhingga karena kebohongan diulangulang dipercaya.menjadi kebenaran dan kita membuat gambar lucu diri kita sendiri yang tertawa lebar menertawakan kebodohan diri sendiri Bandung, 9 Desember 2017

EKSTASE MAYA

Puisi: Nanang Suryadi bahkan kau membuka segala yang rahasia di kitab wajah. membuka nama nama dan angka angka yang kau ketahui. di dinding waktu mereka menera namamu nama kekasihmu nama kenangan kenangan dari masa lalu. kemana engkau akan pergi? jejakmu tercatat. langkah demi langkah. jarak demi jarak. siapakah engkau? engkau mencari nama dan wajahmu di mesin pencari. kau tak percaya itu dirimu. yang dicatat waktu. Bandung, 27 Maret 2017

SEONGGOK BATU

Puisi Nanang Suryadi Seonggok batu Menyaksi bisu Lintasan waktu Diamlah Biar kunikmati cahaya matahari Biar kunikmati air mengalir melintasi Biar kunikmati angin berdesir Biar kunikmati tatap mata hati Seonggok batu Diam diam mencatat waktu Malang, 2017

SONETA SUATU SENJA

Puisi: Nanang Suryadi Baris-baris puisi Di senja yang gigil Demam puisi Diksi yang nihil Ingatlah salju turun Di negeri jauh Penyair melintas tahun Jelajah tubuh Inilah tanda yang disematkan Pada mata bercahaya Sebagai mimpi remaja Sebagai senja puisi Gigil menerima cahaya Binar mata menjelma Malang, 16 April 2017

DONGENG TAHUN BARU UNTUK JOKPIN

Puisi: Nanang Suryadi pelan-pelan dia menyimpan ingatan. besok akan dibaca lagi dia anak yang baik. bahkan saat puisi berebut tempat di kepala dan hatinya, dia mau berbagi “sisakan satu lampu saja untukku. ambil lampu yang lain dari mataku” katanya lugu “terserah kamu panggil aku malin atau si anu, asal ibu tak mengutukku jadi batu,” tulisnya di buku waktu sekelebat dia ingat harus membuat kalender baru. ayahnya perlu terompet untuk tahun baru dia anak yang baik. membantu ibu mencari ayah baru “aku tidak mau menulis sajak, biar sajak menulis diriku,” katanya sambil berlagu “kamu meniru? rambutmu harus rontok dulu. biar puisi mau masuk ke dalam kepalamu,” dia menasehati kawanku. anak baik itu “kamu harus jadi dirimu, biar kukenali dirimu. copot baju dan celana itu.” temanku memang lucu. anak baik yang lugu uuuuu kenapa harus berlagu? uuuu tentu saja di saat-saat rindu pada susu buatan ibu “tunggulah di sini, huj...

DUNIA ORANG DEWASA

Puisi: Nanang Suryadi kami mencari kartu garansi di pasar gelap. sang penjual menawarkan dengan harga tinggi. kami menyimpan senja dalam kepala, dan membisikkannya saat bulan purnama kami menatap foto yang sama, tapi yang dicari diri sendiri kami bermain-main huruf, sebuah keberuntungan ketika menemukan kata kami menulis puisi, dan bertanya-tanya apa artinya kami bertukar gelas kopi. gelasku separuh kosong. gelasnya separuh terisi diam-diam kami saling membaca cuaca di mata kami, lalu berkicau tentang sepi kami menyukai omong kosong. karena kami suka mengisi teka-teki kami menduga-duga siapa menggantung, pada saat cuaca makin mendung kami belajar rendah hati hingga terlanjur rendah diri. kami tak mau tinggi hati karena tak ada tangga lagi kami, aku dan bayang-bayangku, saling mentertawakan. kami tertawa berbahagia

MENGENANGMU DI DALAM BIOSKOP

Puisi: Nanang Suryadi :wt demikian sejuk dan wangi ruang ini biar kunikmati saja detik-detik ketakutanmu ya, karena engkau manusia biasa, ketakutan bukan sebuah dosa kami sudah sangat pandai sekarang, membolak balik kata menjual sebuah derita, menjual sebuah nestapa ya, karena kami sangat bijaksana menata kata-kata demikian nyaman tempat ini, sangat enak mengenang perjuangan di waktu muda dulu, tentu saja sambil mengenangmu ya, kami bukan pelupa sejarah sendiiri, bahkan sudah kutulis di buku biografiku sendiri ah, engkau, mengenangmu dalam sunyi, demikian abadi

Soneta Malam

Puisi: Nanang Suryadi seperti ada yang berbisik padaku baris-baris puisi yang terbang, wing mungkin angin yang berdesing-desing di sela-sela sajak yang sesak berbuku-buku seperti ada yang berbisik padaku seperti lonceng waktu lemah bergemerincing mungkin soneta suaramu, wing di lembut cuaca bersalju di negeri itu aku teringat kohar ibrahim mendongeng melukis negeri yang dirindukannya di jemarinya hutan terbakar ada yang berbisik malam ini seperti mendongeng demikian lirih bercerita, mungkin dingin cuaca seperti  engkau wing, rimbaud, dan kohar berkabar Malang. 16 April 2017

Membaca Puisi di Beranda Puisi Nanang Suryadi

Di Beranda Puisi dapat ditemukan: Kumpulan Puisi (Sajak) Religius Sajak-sajak Terbaru dan Terbaik Nanang Suryadi 2011 Contoh Puisi Puisi Yang Sepi Puisi Terbaik di Indonesia Kumpulan Puisi Sunyi Kumpulan Puisi Protes Sosial: Surat Untuk Ibu Pertiwi Contoh Sajak Rindu kepada Tuhan Sajak Di Akhir Tahun

BERSETIALAH PADA NOVEMBER

Puisi: Nanang Suryadi Sebelum hujan menghukummu membanjiri got got yang sengaja kau biarkan mampet penuh sampah Sebelum tiang tiang listrik bertumbangan karena pengendara mobil terkejut mendengar orang terhormat disangkakan mencuri Sebelum kata kata habis diganti gambar gambar lucu Sebelum tanda pengenalmu yang sehalaman folio dapat digunakan daftar ulang kartu handphone-mu Bersetialah pada november, sebelum desember tiba Bandung, 17 november 2017