Posts

Showing posts with the label Telaah Puisi

MENYELAMI RINDU INDRA INTISA

Oleh: Eko Windarto Membaca puisi Rindu Indra Intisa, seperti merasa berada dalam kenangan diwaktu mengajak anakku melempar kapal dari kertas bekas yang saya buatkan, ketika itu Si Kecil melempar kapal kertas itu ke sungai, maklum rumah kami di atas tebing sungai Brantas, hingga kapal itu hanyut, dan hilang dari pandangan mata. Seperti saya yang sedang menyelami puisi Rindu. Saya terhanyut oleh rindu yang terantuk batu kali, atau hancur sebelum sampai muara? Entahlah. Mari kita nikmati puisi RINDU di bawah ini: RINDU Oleh: Indra Intisa kautulis rindu di riak-riak sungai di antara gemercik air batu-batu runcing dan pusaran mengalir terus menerus. jika hujan, riakmu membesar bibir sungai pecah-pecah kau meluap ke rumah-rumah ke jalanan ke sawah-sawah. jika kemarau, riakmu mengecil airmu jernih ikan-ikan memutih 2017 (Indra Intisa) Indra Intisa rupanya menyimpan rindu yg begitu panjang. Sampai sampai tak bisa kutebak rindunya. Kadang rindu itu membahayakan, kadang mengasy...

PENGARUH PUTIKA ATAU PUTIJU DALAM PUISI

Oleh: Eko Windarto Dari tema puisi Indra Intisa ini cukup menarik. Butuh perenungan tersendiri. BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA DAN OLEH SEBAB ITU KEMISKINAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN... Ini saya pikir judul nyleneh alias terpengaruh PUTIJU atau PUTIKA puisi tiga kata. Sangat menyakinkan bahwa dia sengaja membuat judul semacam itu buat melebarkan pengaruh konsep PUTIKA yang sudah dibuat lumayan lama. Dari tema atau judul saja sudah menampakkan puisi yang unik dan simbol yang bukan sembarang simbolis saja, tapi ada muatan sosial, politik, dan moral dalam undang-undang 1945, dan yang termaktub dalam Pancasila. Memang kemerdekaan adalah hak segala bangsa yang sesuai dalam butir-butir Pancasila. Jika merujuk pada undang-undang dasar 1945, serta butir-butir Pancasila, maka seharusnya kemiskinan sudah hengkang dari bumi Pertiwi ini yang gemaripah loh jinawi. Tapi sayang, negeri ini terlalu banyak tikus-tikus yang menggerogoti hingg...

PUISI LUGU NOORCA MARENDRA

Oleh:Heru Emka Apakah teman-teman mengenal nama Noorca Marendra ? Noorca Marendra ini adalah seorang penyair muda yang cukup penting dalam blantika sastra Indonesia di tahun’70-an. Bersama sqaudara kembarnya; Yudhistira Ardi Nugraha, mereka menjadi pasangan muda yang menyemarakkan blantika sastra Indonesia waktu itu bersama dengan nama-nama lainnya, seperti Adri Darmaji Woko, Handrawan Nadesul, Prijono Tjiptoherijanto dan tentu saja Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag dan Sutirman Eka Ardana dari Jogya. Yang menandai gaya khas dari puisi puisi Norrca adalah idiom bahasanya yang sederhana, santai, dan  perlahan-lahan mengajak kita menelusuri rangkaian kata-kata membentuk bangunan makna. Kesan lugu dalam berpuisi ini mungkin sengaja dipilih oleh Noorca, mengingat pada masa itu ( pertengahan tahun ’70-an ) hanya majalah sastra Horison yang dianggap sebagai satu-satunya penentu kualitas sastra kita , sehingga bermunculan anggapan, bahwa penyair belum dianggap penyair bila ...

PUISI YANG MEREKAM PERISTIWA, DENGAN BAHASA YANG SEDERHANA

Oleh: Heru Emka   “ Apakah menulis puisi harus dengan kalimat-kalimat yang serba canggih ? Saya sering merasa kagum dan sedikit iri melihat para penyair mampu menulis puisi yang panjang, dengan kalimat-kalimat yang bertaburan metafora yang luar biasa dan tak terbayangkan bisa saya tulis. Saya kadang merasa putus asa dan melupakan keinginan untuk menulis puisi, karena setiap kali saya menulis puisi, hasilnya adalah puisi sederhana dengan kata-kata yang biasa,” begitu kata seorang teman anggota Kelompok Studi Sastra Bianglala dalam sebuah percakapan on line dengan saya. Salah satu keunggulan seorang penyair adalah kemampuannya mengolah kata-kata, dengan memilih kata-kata yang disuka dan menyusunnya menjadi rangkaian kalimat, menjadi seperti gerbong kereta di mana dia mengangkut sederetan makna dalam rangkaian kata yang dikisahkan. Nah, inti utama kisah alias bertutur ini, sejak jaman kehidupan primitif hingga era digital seperti ini, masih menjadi tumpuan utama bagi nar...

Pengalaman membaca kumpulan puisi Biar, karya Nanang Suryadi

Oleh: Heru Emka “ Dying is an art, like everything else. I do it exceptionally well. I do it so it feels like hell. I do it so it feels real. I guess you could say I’ve a call.” – Sylvia Plath Kalimat yang diucapkan oleh penyair Sylvia Plath di atas tadi menunjukkan betapa derita dalam sakratul maut, ternyata tidak menggentarkan hatinya. Malah dia bersikap bahwa berteguh hati menyongsong ajal adalah sebuah seni ( dying is an art ). Betapa pun mengerikan dan menyakitkan menjelang ajal, penyair perempuan yang berbadan ringkih ini bersikap tegar menghadapinya sebagai sebuah kenyataan hidup, yang harus ditempuh dengan mata terbuka, sebagaimana hidup itu sendiri. Dalam cakrawala sastra Indonesia, saya menemukan sajak pendek karya Sutarji Calzoum Bachri yang bernafaskan serupa : hari demi hari bunuh diri pelan-pelan maut menabungku segobang demi segobang Sungguh risau rasanya menyadari bila mhidup kita meranggas layu pderlahan, seakan kita menjalani hari yang...

PUISI-PUISI SAFRI NALDI: KRITIK TERHADAP MODERNITAS

Oleh: Agung Pranoto Sastrawan (penyair dan penulis prosa) dalam karya kreatifnya berupaya menyampaikan sesuatu kepada masyarakat pembaca. Sesuatu yang disampaikan sastrawan dalam karya ciptaannya merupakan pemikiran kritis terhadap fenomena kehidupan manusia yang menjadi sumber inspirasi. Melaui karya sastra yang diciptakan itu pula dapat kita pahami arah yang diinginkan sastrawan. Arah yang diinginkan sastrawan itu sangat terkait dengan fungsi sosial sastra dan keberpihakan sastrawan untuk memperjuangkan sesuatu hal. Terkait dengan hal tersebut, Luxemburg (1984: 24-25) memaparkan pemikiran kritik sastra Marxis. Lenin,  peletak dasar bagi kritik sastra Marxis, berpendapat bahwa di dalam susunan masyarakat terdapat hubungan timbal-balik (hubungan dialektik) antara bangunan bawah dan bangunan atas.  Menurut Lenin bahwa sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme. Dengan demikian, sastra terikat akan kelas-kelas...

PERJALANAN RELIGIUSITAS PUISI-PUISI Y.S. SUNARYO

Oleh: Roja Murtadho Puisi adalah kegelisahan-kegelisahan yang disampaikan seseorang melalui medium bahasa indah yang bisa diungkapkan secara tersirat maupun tersurat melalui metafor-metafor dan imaji. Puisi terlahir sabagai penggambaran perjalanan batin seseorang dapat berupa kegelisah-kegelisahan pada nilai-nilai ketuhanan, sosial, kritik sosial, budaya, filosofis, ataupun edukatif. Perjalanan batin inilah yang akhirnya memengaruhi penulis/penyair dalam menuangkan pengalaman batinnya ke dalam puisi. Puisi dapat terlahir akibat kegelisahan penyair terhadap pengalaman batin terhadap kesadaran tertingginya pada hidup, kesadaran tertinggi pada kecintaan terhadap Tuhan, pertaubatan atau penyesalan penyesalan terhadap perilaku hidup yang bergeser dari.jalan Tuhan. Dari sinilah, aspek religiusitas tertuang ke dalam puisi. Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya ke...

ALIENASI CINTA DALAM PUISI-PUISI FARIDAH IDAH (MALAYSIA)

Oleh: Agung Pranoto Faridah Idah merupakan nama pena Dr. Faridah Binti Jaafar aka Dr. Fj. Ia adalah pengajar pada Bahagian Sains Politik, Pusat Pengajian Pendidikan Jarak Jauh, Universiti Sains Malaysia. Sebagai seorang yang menekuni bidang sains politik, ia menggemari menulis puisi. Puisi-puisi yang ia ciptakan bertebaran di berbagai grup sastra maya. Sebagai penulis puisi, ia tergolong produktif dalam berkarya. Apa dan bagaimana puisi-puisi yang dikreasi oleh Faridah Idah? Tulisan ini pun bertujuan untuk mengupas atau menelaah/mengkaji beberapa puisi Faridah Idah, tentu saja sampel yang menjadi objek kajian diambilkan secara random beberapa judul puisi yang ia unggah melalui grup sastra. Mencermati puisi-puisi yang ditulis Faridah Idah, dari sisi tema, banyak yang menyuarakan dunia batin seorang perempuan dalam hubungannya dengan manusia lainnya yang muaranya pada bahasa hati, yakni cinta. Soal hati dalam urusan cinta menjadi sentral inspirasi, ilham, imajinasi yang dicurahkan mela...

DI BALIK YANG TERSURAT-TERSIRAT PUISI-PUISI ADYRA AZ-ZAHRA (MALAYSIA)

Oleh: Agung Pranoto Membaca puisi-puisi Adyra Az-Zahra (selanjutnya saya sebut Dyra), seperti kita temukan mutiara indah. Mutiara  indah yang dimaksudkan di sini adalah  adanya gurat-gurat kepenyairan Dyra yang menunjukkan progres yang kian bersinar dan penggunaan diksi kemelayuan yang semakin kental. Diksi kemelayuan tersebut misalnya digunakannya diksi “dek minda”, “azali”, “jinjang”, “gigian”, “berselerak”, “(me)redah”, “berbalah”, “menggobek”, “terselit”, “leka”, “Membelek”, “terperuk”, “terkedu”, “bergelodak”,  dan “merafak”. Diksi semacam itu, bagi saya sebagai orang Indonesia, terasa asing. Namun keasingan itu tidak menjadi suatu kendala, setidaknya makna denotatifnya bisa dilacak melalui Kamus Dewan edisi keempat (Dewan Bahasa dan Pustaka, 2015) kiriman atau hadiah  ikhlas dari Dat...

MEMUNGUT IMAJI SAJAK-SAJAK NANANG SURYADI YANG TERCECER

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Sudah lama tidak melakukan mengorek kotak limbah di sudut layar laptop maupun computer meja. Kebringasan memburu kecepatan saji Facebook menjadikan abai pada ceceran karya yang biasanya di zaman kertas sudah jadi abu atau bungkus gorengan. Sampah lebih dari dua tahun tersodorkan dan menarik untuk dikunyah dikuliti seperti juga membaca puisi yang makin genit dengan polesan gambar tatoo foto dalam pantun kilat model Jepang haiku. Puisi yang kata Sapardi Djoko Damono dalam buku ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’ puisi itu berita yang tertata dengan suatu cara dan memaknai dengan bunyi sebagaimana mantra yang diucapkan para pawang atau dukun yang terkadang makna ditinggalkan yang penting berirama maka tak heran jika penyair Nanang Suryadi juga menuliskan yang dimaksud dengan puisi seperti pawang mengusir hujan. Misalnya seperti puisi berikut: PENYAIR DAN PUISI “kita pura-pura menjadi penyair, karena tak tersisa kamar di rumah sakit jiwa” ...

KRITIK SASTRA CYBER TANPA KASTA TAK BERKASTIL

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Pendahuluan Bahasa tercipta untuk saling menukar gagasan dan menjelaskan makna angan-angan di kepala yang kadang tergelincir jadi salah tanggap. Sastra merupakan hasil limbah otak yang disalurkan dalam wacana yang semula hanya bunyi bagi manusia purba yang tidak memunculkan penilaian yang termaknai sebagai kritik. Di masyarakat yang mengandalkan wacana bunyi - layaknya ujaran language is a sound or a sign - kritik terejawantah dengan melakukan perubahan atau pengembangan dengan melengkapi wacana nenek moyang bukan melakukan penilaian uji ulang atau pembongkaran sepenuhnya. Jadilah budaya lisan yang santun memoles menambal dan mengelus bukan merombak membrontak tatanan yang sudah tergelar beratus-ratus tahun pewarisan kekayaan kearifan budaya moyang dengan tanpa pergeseran kuasa berdarah - hanya epos kepahlawanan yang penuh wibawa dan bijak. Perkembangan jumlah anggota masyarakat yang sehat kuat menjadikan keperluan pemenuhan kebutuhan meningkat dan perubaha...