Oleh: Dimas Arika Mihardja*) Saat penyair memilih menjadi pejalan sunyi, barangkali kelak akan menjadi sufi. atau setidaknya, mengajak menyimak dan menyibak “Sajak Sajak Sunyi” (S3, istilah Busetnya), melacak “Sukma Silam”, merasakan getar “Kepak Sayap Jiwa”, hingga memperoleh “Penyadaran”. Diksi bertanda Kutip di sini merupakan kumpulan puisi Budhi Setyawan—yang mengajak pembacanya menigi sunyi, ruhani, kejiwaan, atau mengajak bicara di kedalaman. Puisi hakikatnya ialah santapan ruhani, konsumsi spiritual, kebutuhan mewah untk santapan jiwa. Ayo kita intip satu puisinya yang mengajak introspeksi, merenung, kontemplasi. Puisi yang mengawali buku terbaca seperti ini: Di Atas Kata engkau yang kubayangkan terbang atau memang menghuni awing-awang kucari lewat zikir dan sembahyang kukejar dengan kasidah dan dendang sedangkan diri masih di bawah duga melumur umur dengan prasangka namun waktu tabah merawat sasmita mala...